Amanat Kebhinekaan Pada Generasi Millenial

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 November 2017
Amanat Kebhinekaan Pada Generasi Millenial

Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah penduduk 261,1 juta jiwa berdasarkan data per tahun 2016. Negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia ini memiliki kondisi yang variatif baik secara sosiokultur, sebaran, demografis, dan lain sebagainya. Berdasarkan kondisi sebaran, penduduk Indonesia tersebar tidak merata di kawasan Indonesia. Hal ini diamati dari sebanyak 17.504 pulau yang dimiliki hanya 12,38 % yang berpenghuni, atau setidaknya hanya 2.342 pulau.

Selain itu secara demografis proporsi penduduk Indonesia cenderung akan didominasi oleh usia produktif. Kondisi jumlah penduduk usia produktif yang semakin tinggi inilah yang disebut sebagai bonus demografi bagi suatu negara. Diprediksi pada tahun 2020-2030, Indonesia akan didominasi sebanyak 70 % penduduk usia produktif (15-64 tahun) sisanya 30 % adalah usia di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun. Hal ini akan menjadi “bonus” yang positif secara sosial-ekonomi apabila dapat dikelola dengan baik dan dapat diantisipasi dari berbagai ancaman dampak buruknya.

Namun di lain sisi, generasi yang disebut sebagai generasi millennial ini sedang dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah secara global. Tantangan persaingan, dinamika teknologi, dan kondisi sosiopolitik yang tidak stabil akan mengarahkan kepada gesekan secara horisontal maupun vertikal. Selain itu kuantitas yang besar akan menimbulkan kondisi yang kompleks dan beragam. Tantangan dan persaingan inilah yang menjadi ancaman tersendiri bagi individu maupun komunal dalam mempertahankan eksistensinya. Kondisi ini dikhawatirkan menjadi potensi yang dapat menggerus nilai – nilai luhur yang tercermin dalam perilaku berbangsa dan bernegara.

Dinamika yang terjadi telah mengarahkan prinsip dari kerjasama (gotong royong) ke arah kompetisi dan menjadikan kawasan urban sebagai magnet area kompetisi ini didengungkan. Apabila atraksi dan kondisi ini tidak diiringi dengan revolusi mental yang baik maka akan menjadi sebuah bom waktu yang dapat menghantam kerukunan antar penduduk di Indonesia. Masyarakat akan mudah menjatuhkan saudara karena persaingan semata, merenggut hak demi ambisi, dan melupakan toleransi demi eksistensi.

Pada dasarnya ini adalah tantangan secara moral dalam menjaga eksistensi yang lebih besar yaitu, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini akan semakin menantang karena pola pikir generasi mendatang jauh berbeda dengan pendahulunya. Para pendahulu di era kemerdekaan memiliki semangat dan kebulatan tekad dalam menjaga negara dan memiliki rasa toleransi yang kuat karena mereka merasa mengalami nasib sepenanggungan dan penderitaan yang sama. Namun generasi “penikmat” kemerdekaan ini seakan-akan lupa amanat para pahlawan dalam melanjutkan pembangunan. Pembangunan yang tidak hanya kentara secara materil namun juga pembangunan moral atau akhlak sehingga tumpuan bangsa ini tidak bersifat artifisial pada tampilan fisik namun juga kualitas generasinya.

Pembangunan yang hakiki pada dasarnya tidak hanya membangun secara fisik, namun juga moralitas dan adat kebudayaan yang tercermin dalam perilaku individu. Hal tersebut adalah amanah besar yang harus kita jaga dan tumbuhkan sehingga trend globalisasi yang hadir bukan hanya sebagai pengkikis akar bangsa namun juga mampu sebagai penjembatan dalam rangka pembangunan. Begitu pula teknologi yang semakin memudahkan manusia dalam beraktifitas tidak hanya sebagai alat persaingan namun diharapkan mampu menjembatani rasa persaudaraan dalam negara yang luas ini dan menjadi daya kompetitif bangsa.

Pada hakekatnya bonus demografi merupakan sebuah anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Melalui penguatan pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara, penguatan nilai budaya, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan diharapkan mampu memunculkan rasa kesadaran dan kepedulian dalam memaknai kehidupan dengan lebih baik. Sebagai rasa syukur dan upaya menjalankan amanah pendahulu sudah selayaknya generasi ini memaknai era globalisasi tanpa meninggalkan nilai – nilai bangsa dan akar budaya, tetapi sebaliknya menjadikan itu semua sebagai potensi dan jati diri sehingga tercipta iklim dan pola kehidupan yang kondusif. Sehingga bonus demografi bukan menjadi ancaman namun potensi serta ujian kedewasaan bangsa ini.

 

Semarang, 5 Agustus 2017

Ari Setiawan


======
Penulis: Ari Setiawan
Perguruan Tinggi: Universitas Negeri Semarang

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 204