Di Mana Persatuan Bangsaku?

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 09 November 2017
Di Mana Persatuan Bangsaku?

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Demikianlah kata-kata yang pernah diucapkan oleh Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia. Ketika melihat kejadian-kejadian yang sedang terjadi belakangan ini di Indonesia, saya sering teringat akan kutipan ini. Bagaimana tidak; pada masa kini, pertumbuhan negara Indonesia sebagai negara yang sejahtera dihalangi bukan karena ancaman dari negara asing, tetapi oleh rakyat kami sendiri. Orang-orang yang berniat baik malah dicaci maki. Dihina habis-abisan. Diancam oleh mereka yang bersifat seperti preman. Dan jika diperhatikan, dapat dilihat bahwa kebanyakan dari orang-orang tersebut dibenci bukan karena kesalahan mereka sendiri, tetapi karena mereka berbeda. Seperti kaum etnis Tionghoa yang sudah menjadi sasaran isu SARA sejak zaman penjajahan Belanda. Hal ini tentu dapat mempengaruhi secara buruk proses berjalannya sistem demokrasi dalam negara Indonesia.

Sayangnya, isu SARA dalam Pemilu bukanlah hal yang jarang terjadi. Lihat saja apa yang pernah terjadi dalam Pilpres 2014, saat Jokowi dituduh memiliki keturunan Cina (dan jujur, mengapa hal tersebut perlu dipermasalahkan?). Lihat juga apa yang terjadi pada Pilkada DKI 2017, saat beredarnya spanduk-spanduk provokatif yang mengujarkan orang-orang untuk tidak menyalatkan jenazah pemilih calon pemimpin non-Muslim. Ini jelas merupakan pelanggaran terhadap Pancasila sendiri, yang sila pertamanya berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dan juga terhadap moto bangsa Indonesia, “Bhinneka Tunggal Ika”.

Saya tidak mengerti mengapa SARA perlu dipermasalahkan. Tidak ada seorang pun yang mampu memilih suku ataupun ras mereka sendiri. Dan saya percaya bahwa semua agama mengajarkan yang baik, untuk saling mengasihi. Demikian, tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa hidup bersama dengan damai. Kita sebagai rakyat Indonesia perlu belajar untuk mencintai keberagaman, karena keberagaman merupakan sebuah kekuatan dari bangsa Indonesia. Negara ini didirikan atas prinsip keberagaman, dan jika ada yang merasa bahwa mereka perlu menolak keberagaman, maka ia juga menolak konsep negara Indonesia - ia adalah seorang pengkhianat, yang tidak dapat menyebut dirinya sebagai orang Indonesia sejati, karena ia telah menolak nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara ini.

Indonesia mempunyai potensi yang sangat hebat untuk menjadi negara yang maju, dengan populasi terbesar keempat di seluruh dunia dan sumber daya alam yang melimpah. Lantas, mengapa kita masih terus terjebak dalam masalah-masalah yang sama? Potensi Indonesia sebagai negara dihalangi oleh rakyatnya sendiri - dimana negara lain sibuk merencanakan cara mengirim orang ke Mars, kita masih sibuk saling menjatuhkan. Kapan kita maju kalau mereka yang berniat baik dihujat hanya karena berasal dari ras yang lain, atau memiliki agama yang berbeda? Negara asing menertawakan kita, dan untuk alasan yang baik. Banyak yang berkata bahwa Indonesia sedang mengalami darurat toleransi. Jika kita memperbolehkan bangsa ini dipecah-belah oleh masalah sederhana seperti masalah SARA, maka kita memang tidak pantas untuk menjadi negara yang maju.

Oleh karena itu kita sebagai rakyat Indonesia harus berani untuk bersatu, agar tidak ada yang mampu memecah-belah kita. Lihat saja ke sejarah kita sendiri - selama 300 tahun, kita gagal meraih kemerdekaan karena kita belum bersatu, sampai pada akhirnya seluruh rakyat Indonesia menyatu untuk berjuang demi bangsa dan negara. Sekaranglah waktunya kita bersatu sekali lagi. Sekarang, kita tidak berperang dengan negara asing. Sekarang, kita berperang melawan para provokator, para pemecah kesatuan bangsa, para pengadu domba.

Seperti yang pernah dikatakan almarhum Gus Dur: “Gitu aja kok repot!”

======
Penulis: Gabriel Orion Kai Antar
Sekolah: Cita Buana

Note:
Esai terbaik kategori pelajar.

  • view 9