UPAYA PENANGGULANGAN INTOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Agama
dipublikasikan 06 November 2017
UPAYA PENANGGULANGAN INTOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA

Masalah toleransi antarumat beragama tampaknya menjadi salah satu ujian berat yang harus dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Jakarta, jika bukan di Indonesia. Bagaimana tidak? Drama Pilkada DKI Jakarta beberapa waktu lalu yang banyak mengangkat isu SARA untuk kepentingan politik sangat membekas dan menjadi sorotan banyak media asing. Nama Indonesia yang dikenal sebagai negara mayoritas Muslim toleran terbesar di dunia telah tercoreng. Bentuk intoleransi tersebut dapat terlihat mulai dari seruan untuk tidak menyalatkan Muslim yang memilih paslon tertentu yang dianggap kafir hingga ramainya pemberitaan tentang anak-anak yang menyerukan pembunuhan paslon tertentu dan memanggil temannya dengan sebutan kafir (BBCIndonesia, 2017; CNNIndonesia, 2017). Rupanya, demam intoleransi tidak hanya menjangkiti mereka yang melek politik, tetapi juga anak-anak polos yang bahkan belum mengikuti Pilkada. Tentunya, hal ini merupakan masalah yang sangat serius. Bibit-bibit intoleransi yang telah tertanam sejak kecil dikhawatirkan dapat membahayakan persatuan dan kesatuan NKRI di masa depan. Peran keluarga, sekolah, pemimpin agama, dan pemerintah sangat dibutuhkan agar bibit-bibit intoleransi tersebut dapat ditanggulangi.

Keluarga, terutama orang tua, sangat berperan dalam proses sosialisasi dan pembentukan karakter individu terutama pada masa awal kehidupannya (Maryawati, Suryawati, 2012). Keluarga merupakan komunitas pertama dan utama bagi individu yang dalam hal ini adalah anak-anak. Anak merupakan peniru yang sangat ulung. Jika kedua orang tua dan keluarganya memiliki stereotip dan perasaan benci terhadap agama tertentu, bukan tidak mungkin anak tersebut tumbuh menjadi individu yang bersifat intoleran dan skeptis terhadap agama lain. Hal ini tentunya akan berpengaruh buruk. Mereka akan merasa bahwa hanya agama merekalah yang benar dan muncul rasa permusuhan terhadap perspektif agama lain yang berbeda. Oleh karena itulah, keluarga harus mampu menunjukkan sikap toleransi antarumat beragama yang baik, misalnya saja dengan mengucapkan selamat hari raya kepada tetangga beragama lain yang merayakan. Dengan demikian, akan tumbuh sikap menghargai perbedaan dalam diri individu.

Selanjutnya, peran sekolah sebagai salah satu wadah bagi individu untuk belajar dan bersosialisasi juga harus diperhatikan. Pendidikan Kewarganegaraan selama ini hanya didasarkan atas buku teks. Pelajaran yang banyak mengajarkan tentang Pancasila dan kebhinekaan bangsa Indonesia ini hendaknya tidak hanya menjadi hafalan semata. Sangat penting bagi sekolah untuk mampu menanamkan adab sebagai warga negara yang baik, dimulai dari menghargai perbedaan yang ada di dalam diri orang lain dan menyadari bahwa persatuan bangsa Indonesia dapat tercapai karena adanya sikap toleransi. Peran lain yang dapat dilakukan oleh sekolah untuk mewujudkan toleransi antarumat beragama yaitu memberikan kesempatan bagi anak didik untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing serta memperbolehkan anak didik untuk menggunakan atribut keagamaan sejauh hal tersebut tidak melanggar peraturan dan tidak merugikan orang lain.

Peran pemimpin agama juga krusial mengingat merekalah tokoh yang cukup dihormati di masyarakat dan dianggap memiliki ilmu agama yang lebih tinggi. Pemimpin agama yang baik seharusnya turut serta menjaga perdamaian dan toleransi di masyarakat alih-alih menyerukan permusuhan dan menganggap umat agama lain kafir. Bentuk toleransi yang dapat diwujudkan oleh para pemimpin agama sangat banyak, mulai dari ceramah untuk saling menghormati umat agama lain hingga mengadakan diskusi terbuka tentang nilai universal keagamaan antar pemuka agama. Hal ini dimaksudkan agar umat dapat mengetahui dan mampu menggali lebih dalam ajaran agama lain yang sama-sama mengajarkan kebaikan.

Pemerintah pun dapat turun tangan untuk mengatasi masalah intoleransi ini. Langkah pemerintah untuk membubarkan organisasi masyarakat anti-Pancasila patut diapresiasi. Organisasi masyarakat yang banyak menebar kebencian terhadap agama lain dan meresahkan sudah selayaknya diberantas. Hal ini bukan dimaksudkan untuk menghalangi kebebasan berpendapat, melainkan bertujuan untuk menjaga kondusivitas dan persatuan di dalam masyarakat. Selain itu, langkah pemerintah untuk mengawasi ujaran kebencian dan intoleransi di internet, terutama media sosial, juga tepat sasaran. Hal yang mungkin perlu ditingkatkan adalah membentuk batasan yang jelas sejauh mana ucapan seseorang di media sosial dikategorikan sebagai ujaran kebencian atau tidak.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa upaya penanggulangan intoleransi antarumat beragama bukanlah tanggung jawab instansi tertentu saja, melainkan menjadi tanggung jawab bersama. Peran sinergis antara keluarga, sekolah, pemimpin agama, dan pemerintah perlu diwujudkan. Penulis percaya bahwa toleransi di Indonesia belum padam. Toleransi antarumat beragama masih memiliki harapan tumbuh dan berkembang di dalam diri masyarakat Indonesia.

======
Penulis: Caroline
Perguruan Tinggi: Universitas Indonesia

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 759