Anak-Anak dan Serumpun Harapan

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Oktober 2017
Anak-Anak dan Serumpun Harapan

Upacara bendera. Adalah suatu prosesi yang sarat dengan nilai-nilai kewarganegaraan yang positif. Bukan sebatas seremonial yang hanya berujung pada: iih males, panas lagi. Pernyataan seperti itu sejujurnya pernah dan sempat terlontar ketika saya masih duduk di bangku SMA dulu. Setiap hari Senin baju seragam harus tersetrika rapi—mlipit, atribut mesti lengkap mulai dari topi; sabuk; kaos kaki; dan sepatu. Oh no!. Kala itu jiwa pemberontak saya masih sangat labil, inginnya selalu tampil beda yang salah satunya ditandai dengan memakai sepatu dan kaos kaki di luar ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah. Kala itu juga, senang rasanya ketika ‘berani beda’ dengan hal-hal semacam itu. Namun, di balik itu semua, sungguh, upacara bendera adalah saat terdekat kita dengan seperangkat nilai dan simbol tentang betapa adiluhungnya bangsa Indonesia.

Pasca kelulusan SMA, saya tidak langsung melanjutkan kuliah bersebab gagal di seleksi bersama masuk perguruan tinggi. Cita-cita untuk jadi seorang duta besar Indonesia di suatu negara tertentu, kandas.

Alhasil saya terima saja tawaran untuk menjadi pendidik di salah satu Kelompok Bermain (KB) di Sleman, Jogja. Menjadi guru bukanlah cita-cita saya, apalagi harus berhadapan dengan anak-anak toddler. Ada sedikit penyesalan ketika mengiyakan tawaran tersebut. Namun, setelah sampai di kostan tempat saya mengajar, demi melihat Bapak yang berkaca-kaca karena harus melepas putrinya untuk kali pertama ‘memeras keringat’, saya tekadkan saat itu untuk bersungguh-sungguh selama berada di KB. Tidak tega rasanya, melihat Bapak yang biasa tampak tegas dan penuh wibawa kemudian nyaris menangis di hadapan putrinya. Melting.

Tiga hari, dua bulan, setengah tahun, akhirnya. Kacamata berpikir telah berubah. Ketertarikan untuk lebih menyelami dunia anak-anak membuncah pada diri saya. Karena anak-anak, saya mempunyai cakrawala pemikiran baru yang belum pernah saya jamah sebelumnya.

Indah sekali bersama mereka, dengan canda tawanya yang lepas. Tingkah polah nan polos yang mereka tampakkan. Berbagai macam rupa dan ekspresi yang mereka miliki, pendiam, periang, murah senyum, aktif, enerjik, tak kenal lelah. Itu semua tersalurkan tanpa ada yang memaksa.

Meski fresh graduate SMA, oleh rekan kerja tidak kemudian disepelekan kemampuan saya. Justru mereka selalu bersiap membimbing saya ketika saya menjumpai kesulitan dalam hal penanganan masalah yang dihadapi anak-anak. Karena KB tempat saya mengajar merupakan salah satu PAUD inklusi, jadi, benar-benar harus ekstra ilmu, tenaga, dan sebentuk kesabaran dalam membersamai anak-anak.

Salah satunya ketika saya memberikan penjelasan di hadapan anak-anak, bahwa Nadine dan Koko tidak bisa ikut serta dalam praktek wudhu dan shalat dua rakaat, dikarenakan mereka berbeda keyakinan, “mereka beragama Katholik, Nak”. Anak-anak mengerti, meski mungkin tidak sepenuhnya paham dengan kata-kata yang saya jelaskan. Tapi mereka tidak protes, malahan di lain kesempatan anak-anak saling mengingatkan untuk ‘membiarkan’ Nadine dan Koko bermain di luar sembari mereka menunggu guru agama datang.

Pada kesempatan lain, saya ditugaskan untuk menemani Teguh, salah satu anak didik yang berkubutuhan khusus, down syndrome. Tidak banyak yang saya tahu terkait perlakuan pada Teguh kala itu. Anak-anak lain sesekali ada yang melihat Teguh dengan pandangan janggal, ada juga yang iseng mengganggu Teguh, bahkan ada pula yang mencibirnya. Teguh tidak tahu apa-apa. Ia terus berfokus dengan mainan yang ada dihadapannya. Selagi masih bermain, saya datangi anak yang tadi sempat mencibir Teguh, saya katakan padanya sembari menyejajarkan duduk saya dengan anak tersebut, “Sesama teman tidak boleh mengejek, Nak. Sebaiknya kita saling menyayangi mereka, termasuk Teguh. Kata-kata yang kamu lontarkan ke Teguh tadi, Bu Guru tidak suka. Jadi, minta maaflah kepada Teguh, Nak”. Anak tersebut kemudian bersegera mendekati Teguh, mengajak bersalaman dan meminta maaf.

Betapa mudahnya memberikan pengertian kepada mereka, anak-anak. Tentang bagaimana menjalin persahabatan dengan sesama teman, tanpa perlu terbentengi dengan istilah suku, agama, kepercayaan, bahkan kondisi fisik.

Anak-anak adalah makhluk yang begitu unik. Dikatakan unik, karena mereka tak menaruh dendam ketika sebelumnya sempat bertengkar, berkelahi, saling membelalakkan mata dan menjulurkan lidah. Ah, sejurus kemudian mereka telah terlihat bermain bersama, saling bertukar mainan, saling berbagi bekal makanan. Tertawanya adalah alunan yang menyejukkan hati dan pikiran. Damai sekali.

Memesrai dunia anak-anak memberikan serumpun harapan bagi saya. Bahwa merekalah aset bagi agen perubahan yang sesungguhnya. Kenapa demikian? Karena pada rentang usia mereka atau bahasa populernya adalah masa golden age. Saat itulah rasa keingintahuan dan antusiasme mereka sedang bertumbuh pesat. Berbagai macam pengetahuan dan gagasan baru bisa mereka serap dengan sangat cepat, layaknya spons. Namun, sebagai guru, terlebih sebagai orangtua, kita berkewajiban untuk memberikan filter dan edukasi yang benar lagi tepat bagi proses tumbuh kembangnya.

Sehingga, di masa mendatang, ketika anak-anak tersebut telah beranjak dewasa, mereka tidak bertindak gegabah menghadapi kondisi lingkungan masyarakat dan bangsa yang kini sedang mengalami krisis. Krisis damai, toleransi, bahkan kebhinekaan.

Harapan itu akan selalu mengada kepada anak-anak, bahwa mereka mampu dan sanggup menyelesaikan krisis yang oleh (sebagian) orangtua dan kaum dewasa telah perbuat.

Kalian pasti bisa, Nak!

Bu Guru yakin.

======
Penulis: Amanah Nurul Khusna
Kampus: Universitas Muhammadiyah Magelang

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.


 

  • view 20