Toleransi dan Ambisi Kekuasaan

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Oktober 2017
Toleransi dan Ambisi Kekuasaan

Kita bersyukur karena kita dilahirkan di negara dengan kekayaan alam yang melimpah dan subur yaitu negara Indonesia. Negara kita adalah negara yang unik dibandingkan dengan negara-negara lain. Kita dihiasi dengan berbagai keberagaman. Dari sabang sampai merauke, kita memiliki ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, budaya, adat istiadat, agama, dll. Ini adalah keunikan dari sang pencipta yang khusus dianugerahkan bagi Indonesia.

 

Inonesia saat ini bisa ada karena adanya rasa persatuan dan perjuangan dari pejuang-pejuang terdahulu yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk Indonesia. Bukan karena perjuangan satu orang atau golongan tertentu. Dari keberagaman, negara Indonesia dibangun pada dasar yang begitu kokoh, yaitu Pancasila sebagai ideologi negara dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Pancasila sebagai dasar negara erat kaitannya dengan toleransi. Pancasila memberikan instruksi untuk selalu menjaga dan menumbuhkan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika hanya akan menjadi slogan tanpa makna jika tidak ada toleransi.

 

Sampai saat ini hak-hak kebebasan masih belum sepenuhnya terwujud. Pada era modern saat ini intoleransi menjadi sebuah ancaman besar bagi bangsa ini yang bisa menimbulkan perpecahan hingga bubarnya NKRI jika tidak diantisipasi. Terutama pada toleransi antar umat beragama.

 

Negara kita di kenal sebagai negara pluralis. Pluralitas masyarakat Indonesia mencakup suku, ras, budaya, agama, adat istiadat, bahasa dan lain sebagainya. Permasalahan-permasalahan yang sering muncul adalah pemasalahan tentang pluralitas agama karena agama didasarkan pada keyakinan dogmatik yang tidak bisa dibuktikan secara empiris. Itulah sebab setiap orang menganggap bahwa agamanya paling benar. Akan tetapi bukan dalam arti agama-agama yang lain tidak boleh hidup di muka bumi ini. Seorang yang pluralis mempercayai kepercayaannya secara sepenuhnya tetapi secara open minded dia juga menghargai hak-hak orang lain untuk bebas memeluk keyakinannya sendiri.

 

Dalam konteks pluralisme agama, tidak memandang bahwa semua agama sama. Plural menunjukkan arti ‘jamak’. Paham yang memandang bahwa semua agama sama disebut singularisme. Pluralisme tidak berbicara tentang agama yang benar dan agama yang salah, tetapi bericara tentang suatu sikap terhadap penerimaan bahwa adanya perbedaaan agama.

 

Toleransi bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Ditekankan lagi bahwa toleransi tidak menilai benar atau salahnya suatu kepercayaan atau agama tetapi sikap yang menghargai kebebasan orang lain untuk memeluk keyakinannya sebagaimana keyakinannya juga dihargai.

 

Konsekuensi dari toleransi adalah apapun pendapat harus dihargai. Misalnya orang -orang yang beranggapan bahwa agamanya adalah paling benar dan agama lain salah. Seorang pluralis harus menghargai pendapat yang berbeda serta menjujung tinggi hak azasi seseorang dalam kebebasan berpendapat. Pernyataan-pernyataan seperti itu permasalahannya tidak terletak pada benar atau salah tetapi persoalannya adalah implikasi dari pernyataan tersebut dimana orang saling menyalahkan sehingga timbulnya perpecahan. Jika implikasi dinilai secara positif oleh seorang pluralis maka dia beranggapan bahwa ini adalah bagian dari warna perbedaan.

 

Menghargai tidak harus identik dengan membenarkan. Sebuah kewajaran jika seseorang tidak sepaham dengan ajaran yang berbeda dengan ajarannya tetapi bukan dalam arti ketidaksepahaman disamakan dengan penolakan. Dalam toleransi, kayakinan lain harus kita terima. Bukan kebenarannya tetapi keberadaannya. Dalam konteks hubungan antar umat beragama barangkali penggunaan toleransi tidak tepat tetapi menggunakan istilah akseptansi (penerimaan). Akseptansi berasal dari bahasa Inggris (acceptance) yang berarti penerimaan sehingga akseptansi adalah kesediaan. Dalam akseptansi tidak ada penghakiman apakah benar atau salah, baik atau buruk, karena yang diterima adalah bukan sifatnya tetapi keberadaannya. Jika pemahaman akseptansi yang disepakati maka akan meningkatkan kesadaran untuk hidup ditengah-tengah perbedaan, karena akseptansi lebih cenderung pada kebenaran-kebenaran profan dari pada sakral.

 

Akhir-akhir ini isu SARA sedang menantang toleransi di Indonesia. Ini adalah ancaman yang nyata dalam negeri saat ini. Beberapa peristiwa intoleransi yang pernah terjadi di Indonesia seperti peristiwa Tolikara di Papua, pembakaran gereja di Aceh Singkil, dan yang paling heboh terakhir ini adalah penistaan agama islam yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama.

 

Terjadinya intoleransi bisa disebabkan karena adanya provokasi dari orang-orang tertentu yang berhasrat dan berambisi untuk berkuasa. Realita saat ini segelintir orang memakai isu SARA untuk mencapai tujuan tertentu termasuk menggunakan isu agama. Sangat disayangkan jika agama yang begitu agung dan mulia dijadikan sebagai tameng untuk merebut kekuasaan. Toleransi beragama terkadang hanya sebatas retorika, arogansi dari kelompok mayoritas yang ditunggangi oleh oknum-oknum tertentu menjadi senjata untuk memutuskan siapa yang benar dan salah dihadapan hukum.

 

Kejadian seperti ini harusnya menjadi catatan bagi pemerintah. Negara kita adalah negara hukum, semua sama dimata hukum tidak memandang suku, ras, agama, warna kulit, budaya dan sebagainya. Jangan karena banyaknya mayoritas maka dibiarkan dan tidak dihukum jika bersalah, tetapi hukum harus benar-benar di tegakkan seadil-adilnya. Program-program pemerintah dalam dunia pendidikan seperti pendidikan bela negara, revolusi mental, dan empat pilar harus dibenahi. Pemerintah harus bisa merangkul semua pemimpin-pemimpin agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, sebagai pemersatu kembali.

 

Sikap toleransi adalah harapan besar bangsa Indonesia untuk tetap bersatu, damai dan mencapai tujuan bangsa ini. Mari kita mulai dari diri sendiri untuk menumbuhkan sikap toleransi dan mendidik generasi penerus untuk memimpin NKRI yang kita cintai ini.

======
Penulis: Agustinus Zega
Mahasiswa Universitas Pelita Harapan

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 33