Merajut Asa: Mewujudkan Integritas Nasional dalam Kebhinekaan

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 25 Oktober 2017
Merajut Asa: Mewujudkan Integritas Nasional dalam Kebhinekaan

Manusia pada dasarnya adalah homo pluralis sehingga keragaman merupakan suatu keniscayaan bagi kehidupan manusia dalam masyarakat. Keberagaman membawa manusia hidup dalam budaya berbeda, bahasa, etnisitas, sistem kepercayaan, agama, ideologi, cita-cita dan harapan yang berbeda. Dari setiap komunitas mempunyai ciri-ciri yang berbeda sebagai identitas diri untuk membedakannya dengan yang lain. Hal ini pun terlihat pada masyarakat Indonesia, sehingga setiap perbedaan dan keberagaman ala Indonesia dari etnik sampai agama membentuk sebuah mozaik budaya dan setiap kepingan-kepingan yang telah disatukan melahirkan sebutan Indonesia Raya.

Perbedaan merupakan suatu keniscayaan dan Tuhan menciptakan manusia dengan perbedaan agar mereka saling mengenal. Tetapi jangan di jadikan perbedaan tersebut sebagai pemberi izin untuk permusuhan apalagi membunuh. Menghormati dan menghargai keberagaman adalah cita-cita yang tersirat dalam moto Bhineka Tunggal Ika yang menjadi spirit politik sekaligus horison budaya untuk membangun kebersamaan konstruktif dalam keberagaman yang menekankan pada perjuangan untuk mewujudkan masyarakat multikultur berbasis kesederajatan atau kesetaraan, persamaan, keadilan, penghargaan pada demokrasi, hak asasi manusia, perdamaian, solusi pantang kekerasan, dialog, toleransi penghargaan terhadap keragaman atas dasar fairnees dan solidaritas (Atmadja, 2016: 179).

Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, identitas menjadi sangat substansial untuk menjalani hidup dalam masyarakat yang beragam. Jika kesadaran tentang identitas telah memudar, maka perbedaan baik etnik sampai agama cukup berpeluang menimbulkan konflik. Konflik yang seringkali terjadi selalu berujung dengan timbulnya korban jiwa, tindak kebrutalan dan diskriminasi kemanusiaan. Alih-alih sebagai manusia yang bertuhan tetapi mencerminkan manusia yang telah kehilangan nilai moral. Paradaox, pancasila yang telah dibangun sebagai jati diri bangsa dengan nilai-nilainya yang luhur tentang kemuliaan kemanusiaan, pengambilan keputusan dengan musyawarah mufakat dan semboyan bangsa yang menghargai setiap perbedaan dalam kesatuan akan menjadi sia-sia belaka.

Kondisi masyarakat Indonesia yang diwarnai oleh berbagai keanekaragaman, harus disadari bahwa masyarakat Indonesia menyimpan potensi konflik yang cukup besar, baik konflik yang bersifat vertikal maupun horizontal. Konflik vertikal di sini dimaksudkan sebagai konflik antara pemerintah dengan rakyat, termasuk didalamnya adalah konflik antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat. Sedangkan konflik horizontal adalah konflik antarwarga masyarakat atau kelompok yang terdapat dalam masyarakat.

Reformasi 1998, Indonesia memulai zaman kebebasan baru, setelah selama tiga dekade berada dalam otoritas penuh oleh negara. Kebebasaan yang diharapkan membawa pada kehidupan yang lebih sejahtera dan berkeadilan serta mewujudkan integritas bangsa, kerukunan, terjaminnya kehidupan sosial dengan desentralisasi. Tetapi, fakta yang tidak bisa kita pungkiri bahwa beberapa tahun pasca reformasi banyak terjadi konflik sampai peperangan diberbagai wilayah Indonesia. Masalah agama memegang peranan yang cukup penting dalam berbagai konflik yang terjadi seperti, konflik agama di Maluku 1999-2002, Papua antara tahun 2000-2005, dan awal 2000-an di Sulawesi Utara. Mereka saling membunuh sesama saudara sebangsanya sendiri.

Maka, apa yang akan terjadi bila hal semacam konflik, kekerasaan dan pejarahan terus terjadi. Dimana letak kesatuan kita dalam keberagaman yang telah tergambarkan dalam Bhineka Tunggal Ika. Lantas buat apa merdeka jika tidak punya integritas. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita sebagai penerus bangsa untuk mencari solusi, menyelesaikan dan meminimalisir potensi yang menimbulkan konflik yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia dengan tetap berpegang pada identitas Indonesia, Pancasila dan semboyannya Bhineka Tunggal Ika.

Masalah Integritas Nasional merupakan persoalan yang dialami hampir semua negara, terutama negara-negara yang memiliki keragaman budaya. Hal ini disebabkan karena mendirikan negara berarti menyatukan orang-orang dengan segala perbedaan yang ada menjadi satu entitas kebangsaan yang baru menyertai berdirinya negara tersebut. Jadi Integritas Nasional adalah upaya menyatukan seluruh unsur suatu bangsa dengan pemerintah dan wilayahnya (Saafroedin Bahar, 2012: 178).

Untuk mewujudkan integritas Nasional dalam kebhinekaan diperlukan suatu strategi yang dapat mencakup semua lapisan dalam kehidupan bernegara. Salah satu strategi yang dapat di tempuh antara lain; strategi Asimilasi, strategi Akulturasi dan strategi Pluralis.

Strategi Asimilasi ialah Proses percampuran dua kebudayaan atau lebih menjadi satu kebudayaan yang baru, di mana dengan percampuran tersebut masing-masing unsur budaya melebur menjadi satu sehingga dalam kebudayaan yang baru itu tidak tampak lagi identitas masing-masing budaya pembentuknya. Strategi Akulturasi adalah proses percampuran dua macam kebudayaan atau lebih sehingga memunculkan kebudayaan yang baru, di mana ciri-ciri budaya asli pembentukannya masih tampak dalam kebudayaan baru tersebut. Sedangkan strategi Pluralis ialah memahami, mengakui dan menghargai adanya perbedaan dalam masyarakat. Paham pluralis pada prinsipnya mewujudkan integrasi Nasional dengan memberi kesempatan pada segala unsur perbedaan yang ada dalam masyarakat untuk hidup dan berkembang.

Konflik adalah bagian dari kehidupan manusia sebagai sesuatu yang pasti tetapi bukan berarti mendiamkan konflik yang ada. Dengan mencari persamaan di masyarakat untuk kemudian menciptakan suatu identitas kolekif sebagai penanggulangan konflik. Selain nilai-nilai Pancasila, adat ataupun kearifan masa lalu dapat menjadi salah satu solusi dalam menciptakan kesejahteraan dan perdamaian. Salah satu kunci utama untuk menghindari potensi konflik yaitu menciptakan atmosfer suasana yang jauh dari prasangka. Goethe mengatakan bahwa seseorang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun yang lalu, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.

======

Penulis: Akhmad Khoirul Munir 
Mahasiswa Universitas Udayana

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 38