Eksistensi Pancasila : Instrumental dan Substansial

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 23 Oktober 2017
Eksistensi Pancasila : Instrumental dan Substansial

Ideologi merupakan hal yang sangat penting bagi berdirinya sebuah bangsa. Ideologi menyokong suatu bangsa untuk dapat berdiri kokoh dalam menghadapi setiap persoalan yang ada. Notonegoro (1975) menyatakan bahwa ideologi mempunyai derajat tertinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaran, mewujudkan suatu asas kerohanian, pandangan dunia, pedoman hidup, pegangan hidup yang dipelihara, dikembangkan, diamalkan, dilestarikan kepada generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan. Berdasarkan pengertian ini, ideologi merupakan refleksi dari pola pikir masyarakat yang sangat diyakini dan sekaligus memotivasi masyarakat untuk mencapai cita-cita negara. Indonesia juga berdiri di atas sebuah ideologi yang sangat diyakini dapat membawa Indonesia ke arah yang terbaik, yaitu ideologi Pancasila.

Semua peraturan perundang-undangan atau hukum yang dibentuk untuk penyelenggaraan negara harus berdasarkan pada Pancasila. (Sulasmono, 2015). Hal ini menunjukkan bahwa posisi Pancasila sangatlah tinggi, sehingga menjadi sumber hukum bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila harus menjadi sebuah dasar yang kokoh yang harus diperjuangkan oleh setiap pribadi di bangsa ini. Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah ideologi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa pengubahan nilai dasarnya. (Setiadi, 2003). Artinya, nilai-nilai dasar Pancasila dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman secara kreatif dengan memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia. Namun, pertanyaan yang muncul dari permasalahan yang ada bukanlah “apakah Pancasila akan bertahan?” melainkan “apakah masyarakat Indonesia mampu mempertahankan eksistensi Pancasila?”.

Eksistensi Pancasila semakin menurun akibat kesalahan dalam pelaksanaannya. Masalah ini muncul dari pemikiran dangkal masyarakat yang tidak mengkritisi dan menyadari posisi dan makna Pancasila itu sendiri. Bahkan, tanpa disadari, bukan hanya masyarakat, banyak juga figur penting yang seharusnya menjadi contoh bagi masyarakat malah bertentangan dengan prinsip dalam Pancasila. Banyak masyarakat bahkan petinggi negara yang menunjukkan sikap yang tidak sesuai dengan Pancasila, tetapi ini bukanlah alasan yang tepat untuk menyalahkan Pancasila. Seyogiyanya, cara pandang dan makna Pancasila dalam pikiran masyarakatlah yang pantas dipertanyakan.

Ada beberapa isu yang menyangkut eksistensi Pancasila di Indonesia. Pemuda dari Toba Samosir, Sumatera Utara, Sahat Safiih Gurning, diadili karena dalam status facebook-nya, Sahat menulis Pancagila dilengkapi dengan definisi sebagai berikut: 1. Keuangan Yang Maha Kuasa, 2. Korupsi Yang Adil dan Merata, 3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia, 4. Kekuasaan Yang Dipimpin oleh Nafsu Kebejatan Dalam Persengkongkolan dan Kepurak-purakan, 5. Kenyamanan Sosial Bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat. (Gabrillin, 2016). Isu lain muncul dari seorang aktris muda yang seharusnya memposisikan diri sebagai figur publik, tetapi malah melakukan pelecehan terhadap Pancasila. Seperti diketahui, adanya jawaban Zaskia di program “Dahsyat” yang menyebutkan lambang Pancasila ke-5 adalah bebek nungging. (Rafiq, 2016).

Isu-isu pelecehan terhadap dasar negara ini merupakan contoh tindakan yang menunjukkan adanya pemikiran dan kesadaran yang rendah dalam masyarakat tentang Pancasila. Sekilas, masyarakat dapat berpikir bahwa Sahat tidak bersalah karena dia ingin menyampaikan atau mengekspresikan pendapatnya kepada publik. Namun, masyarakat seharusnya tidak terlena karena jelas hal ini merupakan pelecehan terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Begitu juga dengan Zaskia, sebagai seorang public figure, harusnya menunjukkan contoh dan teladan yang baik bagi masyarakat Indonesia. Zaskia juga melakukan pelecehan terhadap Pancasila dan atribut negara yang lain yang disiarkan secara langsung di acara televisi. Tidak dapat dibendung, jutaan mata pasti tertuju pada acara tersebut dan menonton secara langsung pelecehan tersebut.

Menurut Bolo dkk. (2012, h. 32), Pancasila diletakkan sebagai substansi atau akar tunggangnya Indonesia yang dapat menancapkan akarnya ke dalam bumi Indonesia, sehingga dapat memberikan pertumbuhan yang berarti dan abadi bagi persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia. Berdasarkan pandangan tersebut, maka, pelecehan terhadap Pancasila telah merusak makna dan nilai Pancasila. Pancasila yang seharusnya tonggak persatuan dan keutuhan bangsa malah akan pudar eksistensinya karena tidak dimaknai dan dipahami posisinya. Lemahnya eksistensi Pancasila dan pandangan masyarakat malah akan berdampak negatif terhadap kesatuan dan keutuhan bangsa.

Banyak isu yang menyeret Pancasila masuk dalam pandangan yang salah. Isu-isu tersebut selalu merujuk kepada satu pemahaman yang kurang mendalam tentang Pancasila. Selama bertahun-tahun, Pancasila menjadi ideologi bangsa. Namun, pemahaman masyarakat terhadap Pancasila hanya secara instrumental. Pancasila sebagai filsafat bangsa Indonesia berdasarkan atas ucapan Bung Karno yang menyatakan bahwa Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia. (Kartahadiprojo, 1983). Artinya, Pancasila bukan hanya tulisan tetapi sesuatu yang harus dimaknai secara mendalam. Kumolo dkk. (2012, hh.82-83) menyatakan bahwa Pancasila jangan dipahami secara instrumental sebagai alat pemersatu bangsa belaka, tetapi Pancasila harus dipahami secara substansi sebagai sumber tata nilai yang merupakan falsafah dalam berbangsa dan bernegara, sehingga perlu terus-menerus dihayati dan dirujuk dalam menata kehidupan.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap eksistensi Pancasila yang bukan hanya sekadar “instrumen”, tetapi juga merupakan “substansi”, Indonesia tidak boleh menyerahkan setiap tanggung jawab kepada para pemimpin untuk mereka emban. Masyarakat harus memiliki kesadaran sendiri juga untuk mengembang tanggung jawab yang besar ini dalam hati masyarakat. Membentuk kesadaran yang sangat mendalam dan mempertahankan eksistensi Pancasila bukanlah urusan satu orang saja, bukanlah urusan pemimpin negara saja, bukanlah urusan penggagas-penggagas Pancasila di era kemerdekan, tetapi melainkan urusan setiap pribadi di negara Indonesia. Oleh karena itu, seyogiyanya, gotong royong diantara setiap pribadi dalam bangsa ini harus diperkuat dan ditingkatkan.


======
Penulis: Jaya Wibowo Pranata S.
Universitas Pelita Harapan

Note: 
Esai terbaik kategori mahasiswa.

  • view 40