Bhinneka Itu Kami

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Oktober 2017
Bhinneka Itu Kami

Bagi saya, Bhinneka adalah perbedaan yang menyatukan. Bagi saya, Bhinneka adalah perkenalan kita dengan seseorang yang berlatar-belakang berbeda. Bagi saya, Bhinneka adalah sebuah sikap bagaimana kita harus saling menghormati meski banyak perbedaan yang kita temukan dalam diri kami. Sejak TK, saya sudah dikenalkan apa itu Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya “Berbeda-beda tapi satu jua”.

Tapi ketika saya beranjak remaja, saya dapati berita di televisi santer mempertontonkan perdebatan dan perselisihan mengenai perbedaan. Sesekali saya lihat dalam kehidupan nyata di sekolah atau di masyarakat perbedaan membuat adanya jarak kehidupan manusia satu dan manusia lain. Bukankah memang para pendiri bangsa sudah matang mengambil syair dari Kitab Sutasoma Mpu Tantular, bahwa Bhinneka Tunggal Ika ialah semboyan kita dalam hidup berbangsa dan bernegara?

Saya adalah seorang anak yang lahir dari ayah dan ibu beragama Islam. Rian kecil tidak paham apa itu toleransi. Keluarga kami memang terdiri dari banyak perbedaan agama dan etnis. Yang saya tahu, ketika nenek dan tante saya merayakan natal, saya sekeluarga datang untuk memberikan semangat kebahagiaan pada mereka. Pun sebaliknya saat hari Raya Idul Fitri tiba, mereka pun datang berkumpul bersama untuk ikut menjaga sillaturahmi dengan baik.

 

Mengenal Toleransi Secara Real

Meskipun kami terdiri dari keluarga yang plural, tapi saya belum pernah merasakan real hidup berdampingan dengan keluarga yang berbeda agama dan etnis dalam waktu yang cukup lama, sebab kami bertemu keluarga besar hanya 1 tahun sekali. Tapi semua berubah saat ayah saya diberhentikan dari pekerjaannya di bank. Bertahun-tahun kami hidup semakin menurun.

Hingga suatu saat ayah saya terjerat hutang dan harus segera membayarnya. Di situ, ayah saya segera berkeinginan menjual rumah lagi. Kala itu ialah kali keempat ayah saya menjual rumah dan kami harus segera pindah. Hingga akhirnya rumah kami diiklankan melalui koran. Setelah iklan itu mulai menyebar sampai kemana-mana.

Hingga suatu akhirnya beberapa orang rombongan dari Manado datang ke rumah untuk melihat kondisi rumah. Mereka tertarik untuk membelinya. Tapi mereka masih menunggu uang mereka turun dari usaha mereka sekitar dua bulan lagi. Dua orang dari mereka bernama Koh Ahlung dan Cik Lin berniat untuk kos di rumah kami sampai dua bulan lagi hingga kerabat mereka dari Manado yang bernama Ibu Debby melunasi rumah tersebut.

Orangtua kami menyambut hangat permintaan mereka karena saat itu juga mereka pun membayar uang kosnya. Kebetulan orangtua saya memang sedang tidak ada uang. Terlebih kala itu ialah satu hari menjelang Bulan Ramadhan sehingga membutuhkan dana untuk membeli makanan sahur dan berbuka puasa.

Ibu saya bekerja menjadi buruh pabrik dan pulang hingga jam 21.00 WIB karena memang ditambah jam lembur. Padahal beliau berangkat kerja pukul 07.00 WIB. Ibu saya justru senang jika lembur, itu artinya beliau bisa mendapat banyak pendapatan ketika lebaran nanti. Tanpa disangka Cik Lin ialah seorang yang hobi memasak dan masakannya sangat enak.

Bahkan Koh Ahlung juga orangnya sangat rajin, dia membersihkan seluruh rumah dan ikut membantu Cik Lin mencuci piring dan mencuci baju. Cik Lin dan Koh Ahlung beragama Kristen, mereka tidak berpuasa Ramadhan, tapi mereka juga ikut bangun ketika Sahur dan berbuka puasa. Bahkan Cik Lin pun memasak makanan yang seenak mungkin untuk berbuka puasa.

Berbagai macam makanan khas Manado, makanan berbuka, nasi goreng, aneka sayur berganti-gantian mereka hidangkan. Mereka juga membuat berbagai macam aneka kue, roti, dan lain sebagainya. Saya juga sangat dekat dengan Koh Ahlung, dia mengajak saya jalan-jalan ke hutan dan sungai. Mereka pun ikut serta merayakan Idul Fitri bersama.

Ketika saya sakit, ibu saya sakit, kakak perempuan saya sakit, mereka sangat peduli dan sayang. Mereka tak segan memijat, membelikan jamu, dan lain sebagainya agar kita semua segera pulih dan sembuh. Kebersamaan kami sekitar 1 bulan penuh ketika Ramadhan tahun 2011 itu merupakan kebersamaan dalam toleransi yang indah. Saya jadi tahu apa itu toleransi, apa itu saling mengasihi meskipun berbeda. Banyak kejadian perselisihan yang terjadi antar masyarakat yang berbeda agama karena tidak saling mengenal.

Pelajaran PKn yang saya dapatkan dari SD bisa saya wujudkan ketika saya benar-benar sedang berhadapan dengan mereka yang memiliki latar belakang berbeda. Toleransi lah yang membuat hidup kami lebih indah. Saya bisa beribadah sesuai waktu yang saya inginkan tanpa mengganggu hidup kami satu sama lain dengan kerabat yang memiliki perbedaan latar belakang. Begitu pun juga mereka bisa beribadah kapan pun yang mereka inginkan.

 

Indahnya Bhinneka Tunggal Ika Kita

Pandangan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya sekedar semboyan tapi juga pedoman ketika kita hidup berbangsa dan bernegara. Jika kita santer mendengar berita bahwa tidak adanya toleransi, perselisihan antar golongan, maka sebenarnya mereka itu tidak saling mengenal satu sama lain. Padahal sejak dulu Indonesia memang sudah multikultur.

Pancasila ialah pondasi dasar kita hidup berbangsa. Dari kedatangan Koh Ahlung dan Cik Lin semua kecurigaan kami tentang etnis Tionghoa pun luntur. Kebencian kami terhadap seseorang yang berbeda agama pun luntur. Satu hal yang kami tahu jika memang kita ialah Bhinneka Tunggal Ika sampai kapan pun.

======

Penulis:
Alvis Rian Fhaedra
SMP Negeri 2 Pringapus

Note:
Pemenang juara 3 lomba "1000 Esai untuk Indonesia" kategori pelajar.

  • view 24