Kami Berbeda, Tapi Kami Saling Cinta

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 13 Oktober 2017
Kami Berbeda, Tapi Kami Saling Cinta

Teringat apa kata Thomas Hobbes, seorang filsuf kenamaan Inggris yang terkenal dengan karyanya “The Leviatan” menggambarkan bahwa “Manusia ialah Serigala Bagi Manusia Lain”. Lebih jelas lagi Hobbes mengatakan dalam Buku Henry J. Schmant “Filsafat Politik” terbitan tahun 1960 bahwa pada hakikatnya bahwa manusia ialah bengis, mementingkan diri sendiri, dan selalu ingin menghancurkan manusia lain demi mendapat kepuasan. Kebengisan manusia harus ditanggulangi dengan kesepakatan bersama, dan lahirlah pada masa itu akan istilah kontrak sosial.

Kontrak sosial ialah kesepakatan bersama. Konsep kontrak sosial ini juga tercermin di dalam Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya sekedar semboyan biasa, melainkan semboyan bangsa yang di dalamnya sudah terdapat sebuah kontrak sosial seluruh masyarakat Indonesia yang di dalamnya sudah begitu banyak ragam perbedaannya.

Tahukah bahwa? Menurut Handoyo, dkk dalam Buku “Studi Masyarakat Indonesia”, berdasarkan istilah bhinneka artinya “beraneka ragam, berbeda-beda, macam, terpecah-belah”, tunggal artinya “satu”, dan ika artinya “itu”. Jika digabungkan istilah tersebut, berarti artinya “terpecah belah itu, satu itu”.

Berbicara soal ketahanan nasional, lebih dulu kita perlu menelisik yang namanya ketahanan keluarga. Rasa-rasanya kita seringkali merasa hati-hati jika berbicara perbedaan. Tapi demi cinta tanah air, tampaknya perlu. Sebagai ihwal yang perlu diperhatikan seksama.

 

Seberapakah Kita Saling Cinta: Fakta Empirik Keberagaman Bangsa Berangkat dari Harmonisasi Keluarga

Sebagai bahan pembuka, setidaknya saya perlu menjabarkan referensi empirik mengenai keberagaman di keluarga saya sebagai perwujudan ketahanan keluarga. “Saya terlahir dari keluarga dengan berbeda-beda agama, daerah, dan suku. Kakek saya berasal dari Purwodadi beragama Islam semi Kejawen, nenek saya berasal dari daerah Yogyakarta beragama Kristen. Mereka melahirkan ibu saya beragama Kristen dan menikah dengan ayah saya beragama Islam. Orangtua saya memiliki keempat anak yang beragama Islam. Kami sudah terbiasa hidup dengan atmosfir perbedaan.

Anak-anak dari kakek dan nenek saya (termasuk ibu saya) memiliki agama yang beragam yaitu Islam, Kristen, dan Katholik. Ketika Idul Fitri tiba, saudara kami yang beragama lain datang untuk ikut serta menyemarakkan hari raya dan memupuk silaturahmi. Ketika Natal tiba, semua keluarga berkumpul untuk ikut serta menyemarakkan hari bahagia saudara kami.

Tante-tante saya pun memiliki suami dengan berbagai macam etnis. Salah satunya ada yang menikah dengan etnis Tionghoa beragama Budha. Sejak saya kecil, saya tahu apa itu perbedaan. Sejak saya kecil kami hidup berdampingan dalam satu keluarga berbeda agama dengan rukun dan harmonis. Kami saling menghormati dan membiarkan kami beribadah sesuai dengan agama kami masing-masing.

(Jujur) saya alami memang, lingkungan saya seringkali bersentimen dengan masyarakat lain yang berbeda agama. Bahkan saya pernah jadi perbincangan karena berasal dari keluarga yang beragam. Terkadang mereka menerka-nerka ajaran orang lain tanpa mengenal lebih dekat. Tapi saya sendiri merasakan, meskipun saudara kami banyak yang memiliki perbedaan, kami tetap saling cinta.

Fakta empirik demikian setidaknya menjadi sebuah cerita real yang bisa dijadikan sebuah referensi terciptanya ketahanan keluarga dengan baik.

 

Pemahaman Toleransi Berasal dari Keluarga

Saudara, mewujudkan cita-cita bersama akan hidup rukun dalam berbangsa dan bernegara tidak bisa terwujud begitu saja jika tidak dimulai dengan menciptakan ketahanan keluarga yang harmonis. Citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menggunakan sistem demokrasi tidak bisa begitu saja bisa indah di mata dunia. Martabat bangsa menjadi pertaruhannya ketika suasana dalam negeri tidak harmonis.

Keluarga yang pecah atau tidak solid karena perceraian, perselingkuhan, ekonomi, dan lain sebagainya cenderung menciptakan keturunan yang memiliki karakter kurang baik. Karakter anak ini lah yang ketika dewasa, mudah diadu domba untuk menyerang perbedaan bangsa kepada golongan yang berbeda. Sebaliknya dengan karakter dari ketahanan keluarga yang harmonis, saling menghormati, dan mencintai. Tentu akan membentuk karakter anak yang bisa menerima segala macam perbedaan dan tidak mudah tersulut emosi.

Lalu bagaimana kita menjadi duta damai setelah ketahanan pada tiap keluarga terjalin dengan baik? Duta damai ialah solusi kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menjaga hubungan yang harmonis di tingkat masyarakat. Hubungan kita dengan tetangga, teman sekolah, kuliah, kerja, masyarakat luas ialah saudara setanah air. Jika setiap keluarga menjadi duta damai di masyarakat, tentu tidak akan mudah marah, memusuhi, membenci, dan terjadi berbagai macam keributan ketika ada pemantik adu domba.

Ketahanan nasional bisa tercapai kuat jika bangsa Indonesia menerapkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan biarkan ruh pemecah belah, adu domba, dan segala macam yang mengerucutkan perbedaan adat, ras, etnis, agama, bahasa daerah, dan sifat daerah lainnya bersarang di negeri ini. Sikap ksatria sebagai masyarakat majemuk ialah menjadi Duta Damai bagi setiap orang.

 

Deposisi: Memulihkan Wajah Toleransi untuk Kejayaan Bangsa

Ketahanan keluarga akan melahirkan masyarakat yang rukun dan membentuk ketahanan nasional yang kuat. Pemulihan wajah toleransi agaknya perlu menjadi satu tujuan bersama seluruh rakyat Indonesia untuk mencegah terjadinya perpecahan.

Tinggal bagaimana kita menempatkan Bhinneka Tunggal Ika. Apakah sebagai tujuan hidup berbangsa seluruh rakyat Indonesia atau kah justru menjadi lawan dari para egoisme kelompok tertentu. Kerukunan bangsa, ketahanan nasional yang terjaga ialah proses pembangunan martabat dan kejayaan bangsa. Kejayaan bangsa dan terciptanya martabat bangsa yang baik di mata dunia sedang menunggu kita (!)


======
Penulis:
Malisa Ladini
Prodi Ilmu Politik, Universitas Negeri Semarang


Note:
Pemenang juara 3 lomba "1000 Esai untuk Indonesia" kategori mahasiswa.

  • view 49