Generasi Anti Bully, Penegak Toleransi

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Psikologi
dipublikasikan 12 Oktober 2017
Generasi Anti Bully, Penegak Toleransi

Beberapa waktu lalu publik ramai membicarakan kasus bullying terhadap seorang mahasiswa difabel di salah satu perguruan tinggi swasta di Indonesia. Hal tersebut sangatlah ironis mengingat kejadian tersebut terjadi di kawasan pendidikan, di mana manusia dididik untuk menjadi insan yang mulia, sedangkan pelakunya sendiri merupakan mahasiswa yang notabene merupakan seorang pemuda sebagai penyandang predikat “Agent of Change”, sosok yang diharapkan dapat menjadi generasi penerus yang dapat memberikan kemajuan di kehidupan mendatang.

Pemuda merupakan tulang punggung bangsa, kita sering sekali mendengar ungkapan tersebut. Di mana di tangan para pemudalah masa depan bangsa ditentukan. Generasi muda adalah harapan bangsa, namun sayang generasi muda sekarang telah rusak moralnya. Banyak dari mereka menganggap kekerasan adalah hal yang biasa dan wajar-wajar saja. Belakangan ini bullying semakin marak terjadi di kalangan pelajar baik dari sekolah dasar maupun hingga sekolah menengah, tak berhenti di situ bullying pun terjadi di perguruan tinggi.

Kebanyakan orang awam di Indonesia akrab dengan kata bullying, namun sebenarnya bullying bukanlah istilah baku dalam bahasa Indonesia. Bullying berasal dari bahasa asing yang dalam bahasa Indonesia berarti perundungan. Perundungan yaitu suatu perlakuan yang menganggu, mengusik terus-menerus dan juga menyusahkan dan merujuk pada perbuatan menyakiti orang lain secara verbal, sosial, dan fisik berulang kali dari waktu ke waktu seperti memanggil nama seseorang dengan julukan, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong seseorang.

Generasi muda harus bisa menghindarkan diri dari perilaku bullying. Bullying adalah sesuatu yang tidak bisa dianggap sepele mengingat betapa mengerikannya dampak yang dapat timbul. Pelaku bullying apabila dibiarkan terus menerus ia dapat menjadi seorang kriminal ketika dewasa nanti. Sedangkan korbannya yang tidak tahan terindimidasi secara terus menerus akhirnya memilih untuk bolos sekolah dan akhirnya memliki prestasi yang menurun. Lebih parah lagi, korban bullying yang biasanya terisolasi secara sosial perlahan lahan akan mulai kehilangan kepercayaan diri, mengalami depresi yang berat dan tak jarang banyak yang akhirnya memilih jalan pintas untuk mengakhiri penderitaan dengan cara bunuh diri.

Jika diperhatikan, praktik bullying di Indonesia bahkan sudah ada sejak sekolah dasar. Bullying dalam bentuk verbal tak jarang kita temukan pada anak-anak SD yang suka memanggil temannya dengan nama orangtuanya atau dengan julukan-julukan tertentu yang tidak pantas dan menyinggung hati anak yang dijuluki tersebut.

Kita pun tak asing lagi mendegar kasus bullying fisik yang biasanya terjadi ketika tahun ajaran baru, pada masa orientasi sekolah senior yang merasa berkuasa biasanya bertindak semena-mena kepada juniornya, dan tak jarang hal tersebut berujung pada kematian siswa baru. Belum lagi jika kebiasaan buruk tersebut menurun pada juniornya yang ketika menjadi senior nanti mereka akan melakukan hal serupa kepada juniornya.

Bahkan di era teknologi sekarang inipun, bullying berkembang luas dalam bentuk cyberbullying. Cercaan, hinaan, fitnah dan olok-olok lainnya bisa disebarkan lemat email dan sosial media hingga semakin banyak orang mengetahui hal tersebut dan ikut terhasut untuk melontarkan kritikan pedas. Generasi muda pun banyak dicekoki dengan tontonan film barat yang memperlihatkan adegan kekerasan secara vulgar. Bahkan anak kecil pun sering menonton serial kartun doraemon di mana tokoh Giant merupakan contoh pelaku bullying yang jelas. Mereka semua menerima konten negatif tersebut tanpa filter berupa pengawasan dan arahan dari orangtua.

Bullying biasanya terjadi karena seseorang ingin mendapat pengakuan sebagai sosok yang pemberani dan kuat dengan cara menindas yang lemah. Hal tersebut tidaklah benar. Memang masa remaja adalah masa di mana mereka mencari jati diri dan ingin diakui oleh orang-orang disekitarnya. Peran orangtua sangatlah berpengaruh, apabila orangtua tidak memberi perhatian yang seharusnya pada sang anak, anak tersebut akan mencari pengakuan lewat jalan lain. Dan bullying adalah salah satu jalannya, jalan yang salah dan tidak seharusnya dilakukan oleh mereka.

Bullying terjadi karena banyak faktor, bisa dikarenakan perbedaan suku, ras, agama, maupun warna kulit. Kasus bullying yang terjadi pada mahasiswa difabel tadi contohya merupakan contoh bullying akibat tidak adanya toleransi dan empati dari teman sebayanya atas perbedaan yang ada dalam diri mahasiswa difabel tersebut. Intinya bullying selalu merujuk pada perilaku menindas kepada anak yang dianggap “berbeda”.

Indonesia memiliki 714 suku yang tersebar dalam 17.000 pulau, sehingga dijuluki sebagai negara yang kaya akan keberagaman. Bayangkan saja dari banyaknya keberagaman itu tanpa disertai dengan toleransi dari warga negara khususnya generasi penerus, Akan jadi apa negeri ini?? Bisakah Indonesia tetap menjadi negara yang kaya nan damai seperti saat ini??. Karena itulah, sikap toleransi sangat penting untuk ditegakkan para generasi muda Indonesia. Sebagai generasi muda kita seharusnya menjauhi perilaku bullying karena itu sama sekali bukan kepribadian bangsa kita. Generasi muda Indonesia ialah generasi yang menghargai sesama, memiliki empati tinggi dan mengedepankan toleransi selaku calon pemimpin di negeri dengan sejuta keberagaman ini.

Bullying bisa kita cegah dengan menggalakkan kampanye anti kekerasan terutama di lingkup pendidikan dan dengan menumbuhkan kesadaran bersama untuk memerangi perilaku bullying. Pelaku bullying dapat dihentikan dengan memberi sanksi yang dapat memberi efek jera, seperti mengirimkan pelaku untuk menjadi relawan di yayasan-yayasan peduli difabel, sehingga tumbuh sifat empati dan toleransi dalam diri pelaku. Stop bullying untuk Indonesia yang lebih baik!!.


======

Penulis:
Isna Fellasifah

Note:
Pemenang juara 2 lomba "1000 Esai untuk Indonesia" kategori pelajar.


  • view 13