Kebhinnekaan Itu Nyata

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Lainnya
dipublikasikan 11 Oktober 2017
Kebhinnekaan Itu Nyata

Akhir-akhir ini Indonesia diributkan oleh berbagai konflik horizontal. Konflik yang menyedot atensi pemberitaan sangat besar. Konflik yang melelahkan dan buang-buang waktu karena energi yang dimiliki seharusnya digunakan ke arah pembangunan secara fisik maupun sosial. Sesama anak bangsa menjadi saling bermusuhan karena perbedaan pandangan politik, berbeda suku agama atau juga ras. Perbedaan dianggap sebagai hal yang tabu dan perlu untuk diseragamkan.

Padahal faktanya, negara yang memiliki lebih dari 17.000 pulau ini memiliki ‘kartu as’ dalam menghadapai permasalahan semacam ini. Ialah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, falsafah dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan tidak akan dianggap sebagai hal yang perlu untuk diseragamkan. Perbedaan justru menjadi dimaknai sebagai keberagaman yang memperkaya.

Di dalam masa ketika perbedaan menjadi sumbu konflik, berbagai kampanye mengenai semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika bermunculan. Konser musik, forum diskusi, orasi budaya dan berbagai bentuk lain kegiatan menjadi alternative kegiatan. Aku, sebagai anak muda Indonesia, lalu menjadi bertanya seberapa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika diriku?

 

Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika Versi de Britto

Pertanyaan tadi terngiang dalam kepala cukup lama. Sampai akhirnya aku terbawa ke ingatan enam tahun yang lalu. Ingatan saat aku mengenyam pendidikan di SMA Kolese de Britto Yogyakarta selama tiga tahun.

De Britto, cara singkat menyebut sekolah ini, sangat unik. Siswanya hanya berjenis kelamin laki-laki. Siswa yang hanya laki-laki ini juga tidak diharuskan untuk memotong rambutnya. Selain itu seragam di de Britto hanya dipakai sekali dalam seminggu. Bahkan upacara bendera hanya dilakukan satu tahun sekali, setiap 17 Agustus. Itu keunikan de Britto yang kasat mata.

Di de Britto, aku menjumpai teman yang sangat ‘mbhinneka’. Aku yang berasal dari Yogya menjadi memiliki teman dari berbagai daerah di Indonesia; dari ujung barat hingga ujung timur dan dari yang paling utara hingga paling selatan. Teman-teman di de Britto juga memiliki latar belakang yang beragam; mulai dari anak guru seperti aku, anak wirausaha, anak seniman, dan lain-lain. Walaupun de Britto adalah sekolah yang diasuh oleh yayasan Katolik, siswa dengan beragam agama dan kepercayaan ada di sini. De Britto serasa miniatur Indonesia bagiku.

Selama di de Britto, aku bergaul dan menjalin hubungan baik dengan teman-teman. Semua membaur, tanpa membeda-bedakan asal-usul, latar belakang, kesukuan, apalagi agama. Kami juga menjunjung tinggi tenggang rasa dan toleransi. Sebagai contoh ketika menjelang kenaikan kelas, kami difasilitasi untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Pastor, pendeta, ustadz dihadirkan ke sekolah. Sementara yang lain diantar untuk bersembayang di pura maupun wihara.

Dalam berteman, namanya anak muda, tidak dapat dipisahkan dari perbedaan pendapat. Apa lagi dengan darah muda yang khas anak muda. Namun dengan semangat bebas dan bertanggung jawab yang menjadi nilai dasar de Britto, setiap konflik selalu dapat kami lalui dengan baik. Segalanya dibicarakan dengan kepala dingin, terkadang juga dengan bercanda santai. Dengan cara seperti ini musyawarah dapat dicapai dan pertemanan tetap terjaga dengan baik.

Selain merasa de Britto sebagai miniatur Indonesia, aku sadar bahwa selama ini semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika telah dihidupi dengan sendirinya dan dengan cara de Britto. Itu keunikan de Britto yang ‘mbhinneka’ dan yang tidak kasat mata.

 

Kebhinnekaan Dalam ketjilbergerak

Aku juga teringat pengalaman di awal tahun ini. Aku bersama teman-teman ketjilbergerak, sebuah komunitas yang aktif dalam pendidikan, seni dan budaya; berkolaborasi dengan mahasiswa, pemuda dan warga di Yogyakarta mengadakan rangkaian kegiatan ‘Jogja mBhinneka 2017’. Kegiatan ini bertujuan untuk membicarakan dan memaknai kembali bagaimana kebhinnekaan dimaknai dalam konteks hari ini.

Rangkaian kegiatannya pun beragam. Mulai dari diskusi, lomba menulis esai, lomba mural, pentas budaya dan produksi karya seni. Bentuk kegiatan yang kolaboratif juga membuat aku bertemu dengan teman-teman yang sangat beragam; beragam latar belakang pendidikan, beragam minat dan hobi, beragam cara berpakaian, beragam selera seni dan lain-lain.

Sampai pada akhirnya aku bersama teman-teman menyadari hal yang menarik. Anak muda di Indonesia sebenarnya sudah sangat ‘mbhinneka’. Tidak melulu dilihat dari suku, agama, ras dan ideologi. Anak muda telah ‘mbhinneka’ dalam hal-hal khas anak muda; aliran musik yang didengarkan, pilihan berpakaian, bahasa yang digunakan, panganan yang dimakan dan lain sebagainya yang sesungguhnya sederhana.

Melalui ketjilbergerak dan ‘Jogja mBhinneka 2017’ aku sadar bahwa keberagaman dan perbedaan itu ada, dekat, dan melekat dalam kehidupan sehari-hari.

 

Bangsa Yang Perlu Merenung

Pertanyaan “seberapa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika diriku?” menjadi terjawab dalam lamunanku selama beberapa waktu. Pertanyaan yang jawabannya dapat ditemukan dalam pengalaman sehari-hari. Aku menjadi membayangkan jika teman-teman yang berkonflik atas nama perbedaan berefleksi dan bertanya pada diri mereka sendiri “seberapa Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika diriku?”. Mungkin baku hantam akan berganti dengan jabat tangan hangat.

Karena pada dasarnya, Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sejak awal berdirinya negara ini telah menjadi falsafah dasar kehidupan berbangsa dan bernegara, maka pengalaman mengamalkan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika akan selalu ada dalam hidup kita sehari-hari. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika itu nyata.

 

Salam!

 

 

Yogyakarta, 5 Agustus 2017

 

 

Robertus Krisnanda

======
Penulis: 

Robertus Krisnanda Windhartoko
Prodi Psikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta


Note:
Pemenang juara 2 lomba "1000 Esai untuk Indonesia" kategori mahasiswa.

  • view 11