Pancasila dalam Perspektif Pemasaran

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Sejarah
dipublikasikan 10 Oktober 2017
Pancasila  dalam Perspektif Pemasaran

Pancasila terbentuk oleh proses sejarah panjang yang berakar dari budaya bangsa Indonesia, yang pada akhirnya disepakati sebagai dasar negara Indonesia. Pancasila seyogyanya bukan saja harus dipandang sebagai dasar fundamental dalam bernegara, namun juga harus dianggap sebagai identitas bangsa Indonesia. Hal tersebut yang lantas dipopulerkan oleh Bapak Presiden Jokowi dengan slogan “Saya Indonesia Saya Pancasila” yang sempat viral di dunia maya pada peringatan hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2017 yang lalu.

Ulasan mengenai Pancasila, baik dari kacamata hukum, sosial, politik, dan sejarah telah banyak dilakukan. Untuk kali ini, penulis akan membahas Pancasila dari sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sudut pandang ilmu pemasaran. Katakanlah, dalam hal ini Pancasila merupakan sebuah produk, dan bangsa Indonesia di setiap generasi merupakan target market atau konsumen.

Pembahasan Pancasila dalam perspektif pemasaran menarik untuk dikaji mengingat masyarakat Indonesia mulai mengabaikan nilai-nilai luhur Pancasila. Contoh kasusnya ialah perilaku intoleran yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, justru menjadi ajang perpecahan masyarakat, bahkan antarteman. Padahal sila ke-5 Pancasila butir ke empat jelas menyatakan bahwa setiap individu harus menghargai hak orang lain.

Sebuah produk bisa dianggap sukses jika berhasil menciptakan loyalitas pelanggannya. Artinya, produk tersebut senantiasa berada dalam benak pelanggan dan berpengaruh pada keputusannya dalam memilih produk. Dengan mengacu pada kasus Pilkada DKI, penulis justru melihat negara gagal mensosialisasikan semangat Pancasila dalam perspektif pemasaran kepada generasi sekarang.

Dalam konsepsi pemasaran, terdapat berbagai atribut yang menyertai nilai sebuah produk seperti packaging, kualitas, dan lain-lain. Namun, tentu saja Pancasila tidak bisa disandingkan dengan atribut-atribut tersebut karena Pancasila berbentuk konsep. Kondisi ini sama seperti seorang petugas pemasaran produk asuransi yang keberhasilan penjualannya lebih kepada bagaimana cara mengkomunikasikan produknya. Berdasarkan hal tersebut, penulis memfokuskan pada perihal bagaimana nilai-nilai Pancasila ini dikomunikasikan kepada generasi sekarang.

Selama ini, strategi yang digunakan dalam memasarkan Pancasila, baik oleh generasi lalu hingga sekarang, tidak banyak mengalami perubahan. Padahal zaman sudah sangat berubah. Hingga hari ini, nilai-nilai Pancasila hanya disampaikan pada kegiatan upacara dan buku-buku pelajaran, seperti Pendidikan Moral Pancasila pada generasi orang tua, yang kemudian menjadi Pendidikan Kewarganegaraan pada saat ini. Menurut penulis, hal tersebut memang berhasil menjadikan Pancasila dikenal dan dihafal, namun miskin substansi dan praktik di lapangan.

Bagi penulis, menjadikan Pancasila lebih dari sesuatu yang dikenal dan dihafal sangat penting karena Pancasila adalah konsep yang adiluhung. Konsep ini menawarkan kita sebagai bangsa untuk berperilaku selayaknya manusia beragama yang tunduk pada aturan Sang Pencipta, sekaligus sebagai mahluk sosial yang peduli sesama. Maka dari itu, perlu ada upaya yang lebih serius agar Pancasila menjadi populer dan bermakna sehingga dapat meningkat pada ranah program yang berpengaruh pada perilaku kita sebagai Bangsa Indonesia.

Berikut upaya-upaya yang perlu diperhatikan untuk mempopulerkan Pancasila, yaitu sebagai berikut.

  1. Pengemasan yang menarik.

Setiap generasi mempunyai gaya dan cara pandangnya sendiri. Maka, cara mengkomunikasikan Pancasila pun harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Pada generasi milenia, Pancasila tidak bisa disampaikan dengan gaya indoktrinasi tetapi harus dengan kemasan penyampaian yang menarik. Sebagai contoh, saat ini budaya K-Pop begitu booming di masyarakat. K-Pop tidak berbeda dengan kelompok boy/girl band lainnya, sama-sama menjual dance, nyanyian, dan tampang yang menarik, tetapi pengemasannya lah yang menurut penulis mampu membuatnya berhasil mendunia. “Kami memiliki ekonomi kreatif yang memberdayakan masyarakat. Kegiatan ini sebenarnya ada di setiap negara, tetapi kami dapat mengemasnya karena kami tidak memiliki sumber daya alam seperti yang ada di negara lain,” ucap Presiden Park saat APEC CEO Summit di Bali International Convention Center, bulan November 2013 yang lalu seperti dilansir kompas.com.

  1. Optimalisasi Fungsi Media Sosial

Perkembangan teknologi informasi sangat mendukung proses pemasaran. Optimalisasi penggunaan media sosial menjadi penting sebagai sarana mengkomunikasikan Pancasila dengan cara yang kreatif. Sebut saja popularitas Samyang, mie instan asal Korea yang viral karena Youtube.

Berdasarkan hal tersebut, ada beberapa solusi yang penulis ajukan, yaitu:

  1. mengubah metode penyampaian lama menjadi lebih kreatif dan dinamis sesuai perkembangan zaman;
  2. mengikuti dan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan media sosial sebagai sarana penyampaian/jual, dan;
  3. menciptakan trigger secara konsisten yang mendorong para pengguna media sosial untuk terus menjadikan Pancasila sebagai topik menarik dengan kemasan yang ciamik. Kesuksesan produk Samyang di trigger dengan konsep “Samyang challenge” di kalangan youtuber adalah contoh kasusnya. Menurut penulis, istilah “Saya Indonesia Saya Pancasila” yang diucapkan Presiden Jokowi adalah sebuah positive

Popularitas di sini harus bisa melahirkan kesan “nggak gaul kalo nggak Pancasila”, hingga lambat laun akan menjadi landasan berpikir masyarakat dalam membuat keputusan dan tindakan. Secara nasional, gaya berpikir ini akan mengubah perilaku bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik sesuai butir-butir Pancasila. Perubahan perilaku masyarakat Indonesia yang terlihat oleh dunia, pada akhirnya melahirkan keyakinan bahwa Pancasila jika dimasukkan dalam piagam PBB akan dapat mengubah perilaku dunia ke arah perdamaian, sebagaimana cita-cita Bung Karno dalam pidatonya di markas PBB tanggal 30 September 1960: “Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa diterimanya kelima prinsip itu dan mencantumkannya dalam piagam, akan sangat memperkuat organisasi ini.”

 Referensi:

(https://www.merdeka.com/peristiwa/ini-pidato-soekarno-yang-mengguncang-markas-pbb-di-new-york.html).

(http://ekonomi.kompas.com/read/2013/10/06/1900265/Cerita.Presiden.Korsel.Mengenai.Kesuksesan.K-Pop.)


=======

Penulis:

Adam Poetro Yudhonegoro
SMA - Sekolah Kharisma Bangsa (SKB)- Pondok Cabe Tangerang

Note:
Pemenang juara 1 lomba "1000 Esai untuk Indonesia" kategori pelajar.

  • view 34