Puja Mandala sebagai Manifestasi Pluralisme dan Toleransi Antar Umat Beragama

1000 Esai
Karya 1000 Esai Kategori Agama
dipublikasikan 09 Oktober 2017
Puja Mandala sebagai Manifestasi Pluralisme dan  Toleransi Antar Umat Beragama


                            PUJA MANDALA SEBAGAI MANIFESTASI PLURALISME DAN
                                  TOLERANSI ANTARUMAT BERAGAMA DI INDONESIA

Pendahuluan

Kebhinekaan Indonesia merupakan salah satu kekayaan tanah air yang tidak ternilai harganya. Adanya semboyan “Bhineka Tunggal Ika” yang memiliki makna bahwa meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya tetap satu kesatuan, sesungguhnya merupakan ajakan untuk memandang bahwa adanya perbedaan tak menjadi halangan bagi terwujudnya kesatuan, yaitu bangsa Indonesia yang dibentuk oleh perbedaan suku, agama, ras, dan budaya. Di era ‘kekinian’, kita dipertontonkan dengan sebuah bangsa yang berusaha mencapai kesejahteraan demi masyarakat adil dan makmur, tetapi tidak menghormati segala perbedaan pendapat dan bentuk pemikiran lain; yakni ketika kebhinekaan merupakan hal yang menjadi satu kesatuan namun menghardik keberagaman, menyepakati adanya toleransi beragama tetapi mengerdilkan agama minoritas. Akibatnya, kemajemukan masyarakat cenderung menjadi beban daripada menjadi bangsa Indonesia.

Berbicara mengenai kemajemukan atau keberagaman dapat dilihat dari kondisi masyarakat dalam beragama, sosial, dan budaya. Namun yang sering menjadi isu hangat adalah kemajemukan dalam beragama. Setelah adanya konsep toleransi maka pada prinsipnya, konsep pluralisme muncul ketika setiap individu mengaplikasikan konsep toleransi terhadap individu lainnya. Maka dari itu, munculah keanekaragaman bangsa Indonesia yang terdiri dari suku, agama, ras, dan golongan yang menjadi satu kesatuan dan utuh.


Eksistensi Puja Mandala sebagai Manifestasi Pluralisme dan Toleransi

“Clebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu” merupakan salah satu pribahasa Bali yang memiliki artian bahwa banyak orang maka banyak pula ragamnya. Bali saat ini masih menjunjung tinggi tradisi dan mempertahankan kearifan lokal. Dalam kaitannya dengan konteks kehidupan beragama di Bali, toleransi beragama menjadi salah satu wacana utama yang perlu dikaji secara mendalam. Di Provinsi Bali, Masyarakat Hindu menghormati umat Islam yang sedang berpuasa, demikian pula sebaliknya umat Islam menghormati pemeluk Hindu yang sedang merayakan Nyepi. Demikian pun dengan penganut agama- agama lain di Bali. Hal tersebut semakin diperkuat dengan berdirinya lima tempat ibadah yang dibangun dalam satu kompleks dan diberi nama “Puja Mandala”. Berlokasi di Nusa Dua Bali, Puja Mandala terdiri dari lima rumah ibadah mulai dari Masjid Agung Ibnu Batutah, Pura Jagatnatha, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa dan Gerje Protestan GPKB Jemaat Bukit Doa hingga Vihara Buddha Guna. Kelima tempat ibadah ini berdiri berdampingan tanpa sekat. Hal tersebutlah yang semakin meningkatkan kerukunan antarumat beragama.

 

 
 
Gambar 1. Pusat Peribadatan Puja Mandala
 
  
 
 Gambar 2. Masjid Agung Ibnu Batutah dan Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa
 
 
Gambar 3. Vihara Buddha Guna
 
 
 
Gambar 4. Gereja Protestan GPKB Jemaat Bukit Doa dan Pura Jagatnatha
 

Dalam menjalin interaksi antarumat di Puja Mandala, pada tanggal 14 September 2013 dilaksanakan Dialog Remaja Lintas Agama di bawah naungan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Forum diskusi ini mendatangkan pemuda-pemudi dari enam agama di Indonesia, yaitu; Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu dengan mengusung tema, Melalui Ceramah Remaja Lintas  Agama, Kita Tingkatkan Keharmonisan  Umat  Beragama yang Dilandasi  dengan Semangat Puputan  Badung menuju  Masyarakat  Santhi dan Jagaditha. Terdapat sekitar lima puluh pelajar dan mahasiswa, serta komunitas dari lintas agama yang berkumpul untuk berdialog bersama mengenai permasalahan dan solusi yang dapat dilakukan bersama. Adapun acara yang terlaksana berupa seminar yang mengambil tempat di Gerja Maria Bunda Segala Bangsa dan pentas seni yang mengambil tempat di Masjid Agung Ibnu Batutah.


Gambar 5. Dialog Remaja Lintas Agama yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)


Gambar 6. Para peserta Dialog Remaja Lintas Agama yang antusias berpartisipasi dalam diskusi

Di tengah konflik yang mengkambinghitamkan agama di sejumlah daerah tanah air, keberadaan kompleks peribadatan Puja Mandala di Bali kiranya dapat merepresentasikan  keberagaman  dan  kerukunan  antarumat  beragama  yang seharusnya  terjalin  di  tanah  air.  Keberadaan  lima  rumah  ibadat  dalam  satu kompleks tersebut bukan berarti tidak memiliki kendala dan hambatan. Masalah- masalah yang ada sebenarnya dapat diatasi dengan adanya komunikasi dan saling pengertian antara umat beragama di sana. Tidak jarang terdengar suara adzan ketika sedang berlangsung misa di Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa atau kebaktian di Gereja Protestan GPKB Jemaat Bukit Doa. Upacara keagamaan yang berlangsung bersamaan juga bisa dihelat, seperti halnya perayaan Jumat Agung untuk Agama Katolik dan Ibadah Shalat Jumat untuk Agama Islam. Ketika upacara keagamaan berlangsung bersamaan, maka para pemimpin tiap rumah ibadat akan mengatur jadwal agar semua dapat berjalan beriringan dan tetap saling menghargai antar sesama umat beragama. Tak hanya itu saja, apabila lahan parkir di satu rumah peribadatan penuh akibat membludaknya jamaah, maka rumah peribadatan lain di Puja Mandala pun selalu siap-sedia menyediakan lahan parkir bagi jamaah lain.

Kesimpulan

Kawasan Puja Mandala sebagai pusat peribatan lima agama yang diakui di Indonesia merupakan wujud nyata pluralitas dan toleransi antarumat beragama dalam melaksanakan ibadah. Adanya kepedulian bahkan keprihatinan mengenai intoleransi sehingga menimbulkan berbagai bentuk prasangka kiranya ditepis habis oleh keberadaan kawasan Puja Mandala di Bali. Berkaca pada keberadaan Puja Mandala, sudah sepatutnya masyarakat tanah air peduli bahwa terciptanya bhineka tanpa prasangka merupakan hal yang seyogianya terwujud sebagai manifestasi Bhineka Tunggal Ika Pancasila, yaitu berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Penulis: 

Ni Putu Laksmi Mutiara Prameswari
Prodi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana

Note:
Pemenang juara 1 lomba "1000 Esai untuk Indonesia" kategori mahasiswa.

  • view 89